Bagaimana rasanya dikhianati?
Merasakan cinta yang begitu dalam, dan akhirnya ditinggal?
Diminta untuk bertahan, tapi dia yang lebih dulu meninggal kan?
Meminta untuk selamanya, tapi kata selamanya itu tak pernah ada.
Kata - kata pun tak mampu mendefinisikan semua kekecewaan itu.
Hanya tetes air mata yang mampu mendefinisikan itu semua, semua rasa kecewa.
Kamu tahu bagaimana hancurnya hati ini? hati ini mejadi pecahan - pecahan, menjadi puing - puing kecil yang sulit untuk disatukan kembali. Jika mampu disatukan kembali, maka hati itu tak mampu disusun secara utuh, akan ada bagian yang hilang, dan retaknya pun terlihat jelas ..
Aku benci waktu yang terus berjalan diantara kita, aku benci jarak yang memisahkan kita. Andaikan satu detik pun kita tak pernah bertemu dan mengenal, mungkin tak ada rasa sakit yang ku rasa.
Seandainya dinding itu tak pernah aku robohkan, maka aku tak akan merasa sesakit ini.
Kamu ingat semua ucapanmu? Keinginan mu bersamaku?
Apakah itu hanya sebuah omong kosong? Ya, mungkin itu semua hanya bumbu pemanis utuk hubungan kita yang singkat itu.
Dari hari itu, mulai hari itu aku sangat mencintaimu, tapi aku takut terlalu mencintaimu.
Kau memintaku untuk percaya pada ucapan - ucapan mu, bukannya aku tak mau mempercayai mu, tapi aku takut ketika aku mempercayai mu kau malah meninggal kan ku.
Dan apa yang kutakuti itu telah terjadi. Aku telah mempercayai mu, aku merobohkan dinding itu, dan akhirnya kau meninggalkan ku :)
Terimakasih atas waktu yang singkat itu. Aku membenci waktu dimana waktu itu terus berjalan diantara kita, aku membenci jarak yang semakin jauh diantara kita.
Terimakasih atas waktu yang singkat itu. Aku membenci waktu dimana waktu itu terus berjalan diantara kita, aku membenci jarak yang semakin jauh diantara kita.
Andaikan sedetiik pertemuan kita tak pernah ada :)
Comments
Post a Comment